Suasana gereja masih ramai, riuh rendah suara-suara percakapan mulai menggema. Kebaktian di Minggu pagi itu sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Dengan tertib para jemaat mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing.
Teby juga terlihat diantara mereka, ia melangkah santai sambil celingak-celinguk mencari seseorang, namun penglihatannya masih belum menemukan sosok manis rupawan yang akhir-akhir ini sering menghiasi mimpi-mimpinya. Seorang gadis yang juga telah membuatnya rela bangun pagi di hari Minggu untuk pergi ke gereja itu. Bahkan pagi tadi ia rela menambah dosa dengan ‘ngembat’ KLX-nya Tomi yang menginap di rumahnya.- mumpung yang punya masih hangover dan tepar di kamarnya.
Jam delapan empat puluh, matahari mulai meninggi, tapi tak terasa panas.
Teby sudah duduk di bangku beton di taman dekat parkiran.
Ada tabloid wanita - entah milik siapa- yang tergeletak pasrah di bangku itu. Iseng aja ia meraihnya, sekedar ingin tahu isi artikelnya. Namun begitu tahu hanya berisi gosip-gosip seputar selebritis yang tidak penting untuk dibaca, dilipatnya kembali tabloid tadi.
Lantas ia mulai menunggu.
Sesekali nyengir jika ada teman satu sekolah yang menyapa dan menatapnya dengan pandangan heran bercampur senang. Mungkin mereka pikir anak bengal itu sudah mulai tobat. Atau mungkin juga mereka pikir Teby sedang menjaga parkiran.
“Udah lama, kak?” Akhirnya suara yang ditunggu terdengar juga. Intan melangkah mendekati.
Teby mendongak, lalu mengeleng-gelengkan kepala dengan tatapan takjub melihat Intan yang tampil anggun dengan rok panjang. Juga takjub karena senyum manis gadis itu yang menyegarkan mata dan begitu menyejukan hatinya. Uhui!
Harap maklum, Teby tuh baru pertama kalinya berani usaha ngedektin cewek. Biasanya paling cuma berani ngegodain, itupun hanya sebatas iseng ngegodain, bukan karena naksir. Tapi dengan Intan yang rada-rada agresif gitu, malah bikin Teby jadi tertantang. Ditambah lagi teman-temannya yang selalu ngomporin untuk pedekate.
“Kok ngeliatin gitu, sih?” tanya Intan memberengut manja.
“Abisnya kamu…” Teby malah garuk-garuk belakang kepalanya yang sebenernya tidak gatal. Tuh kan, ngegombal aja dia belum sangup. Badannya aja yang gede, tapi nyalinya langsung mengkeret kalau urusannya udah menyangkut soal flirting.
“Abisnya kamu apa?” tanya Intan lagi dengan suara lembut, seolah menanti sebuah jawaban manis.
Namun Teby cuma mengulum senyum nervous. Idih!
“Ah udah lah, pulang aja yuk…”
“Entar aja deh, parkirannya masih penuh tuh, motornya belum bisa keluar.” ungkap Teby memberikan alasan yang logis. Padahal masih ingin duduk berduaan dulu di taman itu seperti biasanya.
Intan menoleh ke arah parkiran, lalu menghela napasnya, sedikit kesal dan pasrah. Sebentar kemudian gadis itu duduk di sebelah sang kakak kelas. Diraihnya tabloid wanita yang tergeletak di bangku itu, sejenak keningnya berkerut. “Suka baca ginian, kak?”
“Punya orang itu, ketinggalan kayaknya.”
Intan cuma manggut-manggut ringan sembari membuka-buka tabloid tersebut. Matanya kemudian terfokus pada kolom horoskop.
“Itu sih ramalan buat ibu-ibu.” Teby melirik sekilas. “Sini aku aja yang ramalin.”
“Emang bisa?” Intan bertanya tanpa menoleh.
“Bisa dong, aku kan ahlinya.” Teby mulai improvisasi.
Intan meletakan tabloid di sisinya. “Emang bisa ngeramal apa aja?”
“Soal jodoh, keuangan, nilai-nilai ulangan kamu, apa aja bisa deh pokoknya.” Teby berusaha meyakinkan. ”Siniin deh tangan kanan kamu…” ucapnya dengan manis.
Intan menyodorkan telapak tangan kanannya.
Teby meraih dan menggenggamnya, lalu dengan jari jempolnya ia mengelus-elus telapak tangan Intan yang halus banget itu.”Gini ya aturannya,” ujarnya mulai serius. “Kalo aku tanya apapun, kamu harus jawab dengan jujur. Nah, abis kamu jawab itu, kamu harus gantian nanya aku dengan pertanyaan yang sama.” Ia menjelaskan aturan mainnya.”Ngerti?”
Intan diam sejenak, lalu manggut-manggut.”Oke, ngerti.”
Teby memejamkan mata sambil menarik napasnya dalam-dalam seolah sedang berkonsentrasi. Jempolnya masih terus mengelus-elus telapak tangan Intan dengan gerakan yang sangat lembut. “Siap?”
Intan mengangguk.
“Nama kamu siapa?”
“Intan Savitri. Nama kamu siapa?”
“Teby Bernandus. Rumah kamu di mana?”
“PBI. Rumah kamu di mana?”
“Tidar coret. Ibu kamu siapa?”
“Christy Widiyanti. Ibu Kamu siapa?”
“Kim Kardashian.” Balas Teby mulai asal-asalan, tapi rupanya Intan belum sadar. “Kamu anak ke berapa?” lanjutnya lagi sambil berusaha keras menahan tawanya yang mau meledak.
“Dua. Kamu?”
“Satu. Kamu udah punya pacar, belum?”
“Belum. Kamu?”
“Belum.” Teby lalu diam sesaat, menarik napas dalam-dalam. ”Kamu, mau nggak jadi pacar aku?”tanyanya kini dengan suara yang lebih merdu.
“?!?” Intan sempat bengong, lalu cekikikan geli seraya menarik tangannya.”Yee! Kirain serius bisa ngeramal!” ujarnya setengah mencibir.”Dasar ih!” dengan gemas dicubitnya lengan kakak kelasnya itu.
Teby terkekeh nggak karuan, jantungnya pun ikut berdetak nggak karuan. Ada perasaan takut yang bercampur dengan bakal malu, juga perasaan lega di dada.
“Bilang aja mau pegang-pegangan tanganku.” sindir Intan, tapi ada senyum tipis yang tertahan, jadi gemes juga ia rupanya.
Keduanya lalu terdiam, seakan-akan menikmati semilir angin yang berhembus merontokan dedaunan kering.
Teby langsung deg-degan. Eee jancuk, apaan sih tadi? Ia membatin. Perasaan bakal malu semakin memuai seiring detik-detik yang terus berdetik tanpa henti.
Intan sempat menoleh sekilas, ekspresi wajahnya antara mencibir dan meledek.
“Say Y to Yes, deh.” goda Teby.
Diam-diaman lagi.
“Why?!” pelan suara Intan terdengar seperti bertanya.
Teby yang nilai listening-nya bagus sempat bingung. ”Way? Or Why?” tanyanya serius dengan coba melafal pronounciation ala British yang dikental-kentalin.
Bagi Intan terdengar sama saja. Ia masih terdiam beberapa jenak. “Orang belum selesai ngomong udah dipotong aja.” Intan mendelik manja.”Iya, why not, kakak!” ucapnya lembut, lengkap dengan kerlingan maut.
“Beneran, nih?” tanya Teby masih belum yakin, keningnya berkerut.
Intan mengangguk ringan sembari menatap kakak kelasnya itu..
Teby bersorak girang.”Yihaaaaaa!”
Orang-orang yang melintas langsung menoleh.
Intan jadi agak malu diliatin, bergegas ia melipir.
Teby mengikutinya. “Hey, tunggu!” kejarnya berusaha menyejajari langkah gadisnya.
“Malu-maluin tau nggak!” Intan melotot, mecubit keras lengan kakak kelasnya.
Teby cuma meringis senang.
Dan sejak itu, ruang V.I.P dalam hati Teby ada yang mengisi. Intan Savitri namanya.
( Lanjut aja baca halaman 250 di buku, Itu tuh, masuk ke scene yang ada Ryd nyuci motor )
