Dibuang sayang 04

April 4th, 2012, posted in REJECT

Suasana gereja masih ramai, riuh rendah suara-suara percakapan mulai menggema. Kebaktian di Minggu pagi itu sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Dengan tertib para jemaat mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing.

Teby juga terlihat diantara mereka, ia melangkah santai sambil celingak-celinguk mencari seseorang, namun penglihatannya masih belum menemukan sosok manis rupawan yang akhir-akhir ini sering menghiasi mimpi-mimpinya. Seorang gadis yang juga telah membuatnya rela bangun pagi di hari Minggu untuk pergi ke gereja itu. Bahkan pagi tadi ia rela menambah dosa dengan ‘ngembat’ KLX-nya Tomi yang menginap di rumahnya.- mumpung yang punya masih hangover dan tepar di kamarnya.

Jam delapan empat puluh, matahari mulai meninggi, tapi tak terasa panas.

Teby sudah duduk di bangku beton di taman dekat parkiran.

Ada tabloid wanita - entah milik siapa- yang tergeletak pasrah di bangku itu. Iseng aja ia meraihnya, sekedar ingin tahu isi artikelnya. Namun begitu tahu hanya berisi gosip-gosip seputar selebritis yang tidak penting untuk dibaca, dilipatnya kembali tabloid tadi.

Lantas ia mulai menunggu.

Sesekali nyengir jika ada teman satu sekolah yang menyapa dan menatapnya dengan pandangan heran bercampur senang. Mungkin mereka pikir anak bengal itu sudah mulai tobat. Atau mungkin juga mereka pikir Teby sedang menjaga parkiran.

“Udah lama, kak?” Akhirnya suara yang ditunggu terdengar juga. Intan melangkah mendekati.

Teby mendongak, lalu mengeleng-gelengkan kepala dengan tatapan takjub melihat Intan yang tampil anggun dengan rok panjang. Juga takjub karena senyum manis gadis itu yang menyegarkan mata dan begitu menyejukan hatinya. Uhui!

Harap maklum, Teby tuh baru pertama kalinya berani usaha ngedektin cewek. Biasanya paling cuma berani ngegodain, itupun hanya sebatas iseng ngegodain, bukan karena naksir. Tapi dengan Intan yang rada-rada agresif gitu, malah bikin Teby jadi tertantang. Ditambah lagi teman-temannya yang selalu ngomporin untuk pedekate.

“Kok ngeliatin gitu, sih?” tanya Intan memberengut manja.

“Abisnya kamu…” Teby malah garuk-garuk belakang kepalanya yang sebenernya tidak gatal. Tuh kan, ngegombal aja dia belum sangup. Badannya aja yang gede, tapi nyalinya langsung mengkeret kalau urusannya udah menyangkut soal flirting.

“Abisnya kamu apa?” tanya Intan lagi dengan suara lembut, seolah menanti sebuah jawaban manis.

Namun Teby cuma mengulum senyum nervous. Idih!

“Ah udah lah, pulang aja yuk…”

“Entar aja deh, parkirannya masih penuh tuh, motornya belum bisa keluar.” ungkap Teby memberikan alasan yang logis. Padahal masih ingin duduk berduaan dulu di taman itu seperti biasanya.

Intan menoleh ke arah parkiran, lalu menghela napasnya, sedikit kesal dan pasrah. Sebentar kemudian gadis itu duduk di sebelah sang kakak kelas. Diraihnya tabloid wanita yang tergeletak di bangku itu, sejenak keningnya berkerut. “Suka baca ginian, kak?”

“Punya orang itu, ketinggalan kayaknya.”

Intan cuma manggut-manggut ringan sembari membuka-buka tabloid tersebut. Matanya kemudian terfokus pada kolom horoskop.

“Itu sih ramalan buat ibu-ibu.” Teby melirik sekilas. “Sini aku aja yang ramalin.”

“Emang bisa?” Intan bertanya tanpa menoleh.

“Bisa dong, aku kan ahlinya.” Teby mulai improvisasi.

Intan meletakan tabloid di sisinya. “Emang bisa ngeramal apa aja?”

“Soal jodoh, keuangan, nilai-nilai ulangan kamu, apa aja bisa deh pokoknya.” Teby berusaha meyakinkan. ”Siniin deh tangan kanan kamu…” ucapnya dengan manis.
Intan menyodorkan telapak tangan kanannya.

Teby meraih dan menggenggamnya, lalu dengan jari jempolnya ia mengelus-elus telapak tangan Intan yang halus banget itu.”Gini ya aturannya,” ujarnya mulai serius. “Kalo aku tanya apapun, kamu harus jawab dengan jujur. Nah, abis kamu jawab itu, kamu harus gantian nanya aku dengan pertanyaan yang sama.” Ia menjelaskan aturan mainnya.”Ngerti?”

Intan diam sejenak, lalu manggut-manggut.”Oke, ngerti.”

Teby memejamkan mata sambil menarik napasnya dalam-dalam seolah sedang berkonsentrasi. Jempolnya masih terus mengelus-elus telapak tangan Intan dengan gerakan yang sangat lembut. “Siap?”

Intan mengangguk.

“Nama kamu siapa?”

“Intan Savitri. Nama kamu siapa?”

“Teby Bernandus. Rumah kamu di mana?”

“PBI. Rumah kamu di mana?”

“Tidar coret. Ibu kamu siapa?”

“Christy Widiyanti. Ibu Kamu siapa?”

“Kim Kardashian.” Balas Teby mulai asal-asalan, tapi rupanya Intan belum sadar. “Kamu anak ke berapa?” lanjutnya lagi sambil berusaha keras menahan tawanya yang mau meledak.

“Dua. Kamu?”

“Satu. Kamu udah punya pacar, belum?”

“Belum. Kamu?”

“Belum.” Teby lalu diam sesaat, menarik napas dalam-dalam. ”Kamu, mau nggak jadi pacar aku?”tanyanya kini dengan suara yang lebih merdu.

“?!?” Intan sempat bengong, lalu cekikikan geli seraya menarik tangannya.”Yee! Kirain serius bisa ngeramal!” ujarnya setengah mencibir.”Dasar ih!” dengan gemas dicubitnya lengan kakak kelasnya itu.

Teby terkekeh nggak karuan, jantungnya pun ikut berdetak nggak karuan. Ada perasaan takut yang bercampur dengan bakal malu, juga perasaan lega di dada.

“Bilang aja mau pegang-pegangan tanganku.” sindir Intan, tapi ada senyum tipis yang tertahan, jadi gemes juga ia rupanya.

Keduanya lalu terdiam, seakan-akan menikmati semilir angin yang berhembus merontokan dedaunan kering.

Teby langsung deg-degan. Eee jancuk, apaan sih tadi? Ia membatin. Perasaan bakal malu semakin memuai seiring detik-detik yang terus berdetik tanpa henti.

Intan sempat menoleh sekilas, ekspresi wajahnya antara mencibir dan meledek.

“Say Y to Yes, deh.” goda Teby.

Diam-diaman lagi.

“Why?!” pelan suara Intan terdengar seperti bertanya.

Teby yang nilai listening-nya bagus sempat bingung. ”Way? Or Why?” tanyanya serius dengan coba melafal pronounciation ala British yang dikental-kentalin.

Bagi Intan terdengar sama saja. Ia masih terdiam beberapa jenak. “Orang belum selesai ngomong udah dipotong aja.” Intan mendelik manja.”Iya, why not, kakak!” ucapnya lembut, lengkap dengan kerlingan maut.

“Beneran, nih?” tanya Teby masih belum yakin, keningnya berkerut.

Intan mengangguk ringan sembari menatap kakak kelasnya itu..

Teby bersorak girang.”Yihaaaaaa!”

Orang-orang yang melintas langsung menoleh.

Intan jadi agak malu diliatin, bergegas ia melipir.

Teby mengikutinya. “Hey, tunggu!” kejarnya berusaha menyejajari langkah gadisnya.

“Malu-maluin tau nggak!” Intan melotot, mecubit keras lengan kakak kelasnya.

Teby cuma meringis senang.

Dan sejak itu, ruang V.I.P dalam hati Teby ada yang mengisi. Intan Savitri namanya.

[X]

( Lanjut aja baca halaman 250 di buku, Itu tuh, masuk ke scene yang ada Ryd nyuci motor )

Dibuang sayang 03

April 4th, 2012, posted in REJECT

Letupan suara senjata dan aksi Angelia Jollie di film Wanted yang diputar tengah malam itu sudah tidak menarik lagi bagi Bino, ia menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Sementara Jessie yang duduk di sebelahnya masih terlihat asyik menonton adegan-adegan action yang absurd di film tersebut.

Pukul satu dini hari. Dari dalam ruang tengah rumah Jessie itu, mereka sempat mendengar suara deru motor yang sudah tak asing lagi sedang lewat di luar sana.

“Abis ngelayap ke mana tuh Ryd? Jam segini baru pulang?” Bino mengernyit.

“Palingan juga abis nongkrong sama anak-anak.” Jessie acuh tak acuh menyahut.” Kamu tumben nggak ikutan nongkrong ama mereka?”

“Lagi males aja, enakan berduaan ama kamu.” Bino cengengesan seraya mendekatkan wajahnya ingin mencium Jessie.

“Apaan sih! Gangguin orang nonton aja,deh!” Jessie mendelik, lalu merengut.

“Aduh, Jessie ngegemesin deh kalo kayak gitu.” Bino mulai menggoda.

Jessie masih sok cuek, lalu meraih ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Ada nama Jimi muncul di layar. “Halo…”

“Halo sayang!” suara Jimi terdengar merdu.

“Sayang, sayang…siapa kamu?!” canda Jessie di telpon.”Kok belum tidur jam segini, Jim?”

“Harusnya aku yang nanya gitu! Gimana sih?” terdengar Jimi terkekeh. “Aku kan belum bisa tidur kalo belum denger suara kamu.”

“Halah preeeet!”

Bino menghela napas panjang dan berat, lalu memilih diam.

Jessie masih terus ngobrol dengan Jimi lewat telpon.

Bino masih tak bersuara apapun. Ada sedikit rasa cemburu. Tapi ia cukup sadar, bahwa jenis hubungannya dengan Jessie itu memang sulit untuk dinamai. Mereka sama-sama tidak pernah mengikrarkan kata sepakat untuk jadian, namun sesekali dengan sadar bercumbu disela-sela waktu saat berduaan, bahkan sampai melewati batas. Jessie memberikan kecupan terliarnya, juga kehangatan tubuhnya, tapi tidak pernah mau memposisikan dirinya sebagai seorang kekasih bagi Bino.

Jessie meletakan lagi ponselnya di atas meja, sisa senyum masih terkulum di bibirnya. Kadang ia suka geli sendiri kalau Jimi mulai kumat sok perhatian padanya.

Sebentar kemudian, paras bertanya heran mulai terlihat di wajahnya ketika melihat Bino yang rada cemberut. “Kenapa kamu?”

Kembali Bino menghela napas. “Jess,” terdengar pelan suaranya.”Kamu nganggep aku ini apa, sih?”

“Nanya itu lagi!” gerutu Jessie.

“Kamu nganggap aku ini apa?” ulang Bino sedikit lebih tegas.

Jessie tak menjawab, hanya mengangkat bahu seenaknya.

“Sahabat?” suara Bino masih bertanya serius.” Sahabat nggak pake cipokan, Jess! Nggak pake ML!”

“Tapi kamu juga suka, kan?” goda Jessie sembari tersenyum nakal. Enteng saja ia bicara.

Bino masih nampak serius, namun lama-lama tak tahan juga dengan kerlingan maut itu. Entah mengapa, Jessie selalu saja bisa membungkam emosinya, meredam amarahnya.

“Kan aku udah pernah bilang,” ucap Jessie lembut.” Aku cuma melakukan sama orang yang aku sayang dan aku percaya.” Lekat-lekat matanya menatap Bino. “So, nggak perlu nanya-nanya lagi kamu itu aku anggap apa. Ngerti?” ada penekan di kata terakhir tadi. Ia lalu beranjak dari sofa, “Aku mau tidur, ikut nggak?” tanyanya sebelum mengayun langkah menuju kamarnya.

Bino tersenyum tipis agak dipaksakan.

“Ikut nggak?” Tanya Jessie menoleh lagi ketika sampai di depan pintu. ”Nggak?” Ia pun terus masuk dan menutup pintu kamarnya begitu saja.

Bino menarik napas dalam-dalam demi menenangkan hatinya, kedua tangannya meremas rambutnya kuat-kuat. Rusaaaak! Batinnya teriak.

Tanya, Bin! Seru iblis dalam dirinya.

Ya, silahkan.

Nyesel nggak?

Nyesel sih sebenernya.

Halah bohong!

Nyesel!

Bohong!

Nyesel, setan!

Bohong!

Iya deh, nggak nyesel! Udah terlanjur juga!

Nah, gitu dong, bro! Masuk deh sana! Jessie udah buka baju tuh.

Sok tau!

Ya tau dong! Dia suka pake kutang item, kan? Bodinya yahud, kan? Ramping dan kencang tanpa lemak! Mulus pula! Gue aja demen liatnya!
****! Makinya menutup ‘chatting ‘dengan iblis.

BUZZ!

Bino tak peduli.

Enam langkah lagi menuju gerbang dosa. Ia pun beranjak dari sofa, melangkah pelan dengan tenang, lalu membuka pintu pelan-pelan, juga masih dengan tenang.

Jessie yang hanya mengenakan pakaian dalam saja langsung menoleh agak terkejut.” Tutup dulu pintunya, Bin!” pintanya dengan nada manja.

Dengan kikuk Bino mundur selangkah dan menutup kembali pintu itu.

“Maksudku, kamunya masuk, terus tutup lagi pintunya dari dalam! Blo’on!”suara Jessie kembali terdengar, namun nadanya tak lagi manja.

Dibuang sayang 02

April 4th, 2012, posted in REJECT

Masih di malam yang sama, di lokasi yang berbeda.

Bino baru aja keluar dari rental DVD. Sambil terus melangkah ia nampak sedang memikirkan sesuatu, yang kemudian disusul gerakan tangannya mengambil ponsel dari saku jaketnya. Lantas mengutak-atik dan memilih satu nama untuk dihubungi.

“Halo selamat malam…” suara di ponselnya.

Bino bisa mengenali kalau itu suara Jessie, maka ia pun segera ‘menyetel’ suaranya sendiri supaya terdengar beda tersamar. “Selamat malam, bisa bicara dengan Pak Handoko?” tanyanya dengan gaya formal.

“Oh, papa masih di Solo.”

“Kalau ibu Handoko, ada? ”

“Mama juga ikut sama papa tuh, om.”

“Oh, gitu. Pulangnya kapan, ya?”

“Lusa kayaknya, om.”

Bino tampak berusaha keras menahan tawa gelinnya. “Bisa minta nomer hapenya Papa, dek?”

“Sebentar ya, om.”

Bino menarik napasnya dulu dalam-dalam, berusaha keras agar tidak menertawakan kekonyolannya itu. Sebenarnya ia hanya ingin memastikan kalau ‘target ’ malam ini memang lagi sendiri, tidak sedang bersama teman-temannya, juga tidak sedang dalam pengawasan orang tuanya. Memastikan kalau situasi aman dan kondusif.

“Halooo…” suara Jessie terdengar lagi.

“Iya…”

“0812…..”

“Iya…” Bino manggut-manggut, seolah-olah sedang mencatat. Memberi jeda beberapa detik sebelum mengucap,“Oke, makasih ya, dek.”

“Sama-sama.”

Klek!

Disimpannya lagi ponsel ke dalam saku jaket. Mulutnya bersiul-siul kecil.

Bino sudah duduk di atas Tiger-nya. Memakai helm, lalu tersenyum penuh makna sembari memasukan kunci kontak dan memutarnya sekali. Dipencetnya tombol stater, selang beberapa saat kemudian langsung memacu motornya ke arah jalan menuju rumah Jessie.

Langit gemerlap penuh bintang, jalanan cukup ramai dengan arus kendaran yang lalu lalang. Di pinggiran Jalan Suhat banyak terlihat anggota club motor maupun mobil dari beragam tipe tertentu yang sedang mejeng, ada juga orang-orang yang berdagang.

Bino terus melaju ke arah Piere Tendean, potong kompas melewati jalan alternatif yang tembus ke Jalan Veteran. Memutar arah melewati Matos, belok kiri dan terus lurus ke arah perempatan Dieng, mulai mengurangi laju di Raya langsep, hingga akhirnya belok kiri memasuki sebuah komplek perumahan.

Reflek ia mengerem motornya ketika melihat ada Defender yang parkir di depan pagar rumah Ryd. Lantas Bino memutar arah dan memilih jalan lain yang tidak melewati rumah sobatnya itu. Sialan! Katanya pada nongkrong di rumah Teby? Batinnya sempat bertanya. Rupanya ia mengira ada sobat-sobatnya yang nongkrong di rumah Ryd itu, padahal Ryd cuma balik sebentar pakai mobilnya Jimi buat nganterin Dinda pulang.

Beberapa puluh meter kemudian, barulah Bino tiba di halaman rumah nomer 18 yang menjadi tujuan utamanya.

Ia pun mematikan motornya.

Jessie mengintip dari jendela, tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala. Sebentar kemudian ia membuka pintu. “Baru aja aku mau nelpon, kok udah nongol sih?”

“Soalnya aku tau, kamu pasti lagi nungguin aku, kamu pasti lagi kangen!”

Jessie langsung mencibir.

“Papa- mama, ada?” tanya Bino sok berbasa-basi.

“Kenapa? Mau ketemu mereka?”

Ditanya gitu, Bino cuma cengengesan.

“Motormu masukin dulu gih ke garasi.” Jessie mengedipkan mata.

Oh yes! Batin Bino bersorak.

Tanpa menunggu lama, ia pun langsung bergerak cepat. Menuntun motornya ke garasi, lalu menutup pintu pagar, serta tidak lupa pula menguncinya dengan gembok.

Ceklik!

Dibuang sayang 01

April 4th, 2012, posted in REJECT

Naskah di postingan ini adalah naskah yang TIDAK ADA di dalam novel JATUH CINTA terbitan GagasMedia.

[][]

Bagi yang udah baca novelnya, selamat menikmati lagi, mudahan menemukan sesuatu.
Posisi naskah ini berada setelah scene pertama halaman 249, sebelum scene 2 pada halaman 250.
Bagi yang belum baca bukunya, selamat mencicipi.

Penghujung sore di hari Sabtu, CBR merah itu melesat di Jalan BST yang lengang, melewati kawasan perumahan elit yang sunyi senyap, seolah tak ada hiruk pikuk kehidupan yang menghiasinya. Hanya suara halus mesin bikinan Honda itu yang terdengar menderu. Namun kawasan elit itu bukanlah tujuan si pengendara, ia hanya sekedar melintas untuk memperpendek jarak tempuh saja.

Ryd mengurangi laju motornya, memindahan gigi dan belok kanan memasukin jalanan berbatu yang di beberapa titik mulai terlihat rusak berlubang. Semakin pelan ia menjalankan motornya, tampak hati-hati sekali. Bukannya apa-apa, itu tanda kalau ia begitu menyayangi motornya, karena system upside down -shock breaker motornya hanya untuk jalanan aspal yang mulus, bukan untuk medan off road menuju rumah Teby itu.

Masih ada persawahan dan ladang di sisi kanan-kiri jalan kecil tersebut. Lokasi rumah Teby memang agak pelosok, jauh dari keramaian pusat kota. Hanya teman-teman dekatnya saja yang tahu persis di mana letaknya.

Dari kejauhan terlihat Defender-nya Jimi sudah parkir di depan pagar sebuah rumah sederhana, rumah yang temboknya masih bermotif bata, alias belum diplester semen, dengan kata lain: rumah setengah jadi. Di situ tempat Teby tinggal.

CBR merah tadi tetap merayap perlahan, pengendaranya masih tetap hati-hati sekali ketika melewati jalanan tanah berlempung yang agak licin, sesekali zig-zag untuk menghindari kubangan, berbelok ke kiri, dan akhirnya tiba juga di pekarangan rumah yang ditujunya.

Anak-anak yang lain sudah pada berkumpul. Selain Jimi, ada pula Tomi, juga si Yoris,cowok gendut berkulit putih yang biasa dipanggil ‘Bakpau’, ia satu-satunya anak IPS yang ikutan nongkrong di situ.

Ryd mematikan mesin, lalu melepas helm Arai kebanggaanya. Ekspresi wajahnya disetel seakan-akan tidak peduli. Tomi yang asyik gitaran langsun mencibir, tapi Ryd tetap cuek sok cool. Setelah menurunkan standar motornya, ia mulai melangkah menuju teras rumah, diiringi genjrengan gitarnya Tomi yang mencoba memainkan “Thank You” by Led Zeppelin.

“B minor!” tegur Ryd ketika telinganya mendengar ada nada yang kurang pas.

Spontan jemari Tomi langsung berpindah ke chord yang disebut tadi. “Terus kemana?” tanyanya kalem.

“D, ke C, B minor lagi.”balas Ryd serius. “Terus ke Afrika aja sana!” candanya dengan nada sinis, lalu meringis.

Anak-anak lainnya langsung nyengir.

”Kebagusan gitar tuh emang!” celetuk Jimi setengah meledek.

”He’eh, belum pantes Tom, kamu pake Ibanez.” Si Bakpau ikutan nyela. Gitar akhirnya sudah pindah ke tangannya. Nggak lama Ia pun mulai genjrang-genjreng.”Kemanaaa…kemana…kemaaana…” nyanyinya dengan cengkok dangdut yang dikentel-kentelin bergaya konyol.

“Asiiik…” Jimi meringis.

“Hahai…Ayu Tong Tong!” Ryd langsung ngakak.

Karuan Tomi makin bete karena gitar barunya dipake buat dangdutan. Yoris tidak peduli, malah makin manas-manasin dengan menggoyangkan kedua bahunya naik turun ala dangdut. Ryd dan Jimi semakin keras tertawanya.

Di SMANSI, siswa yang badannya kelihatan gede banget kalau pas upacara memang cuma Teby dan Yoris, mereka sama-sama tukang ngebanyol juga. Bedanya, kalau Teby badannya kencang berotot, sementara Yoris badannya buntal penuh tetelan.

“Eh, si Kingkong ke mana, Jim?” tanya Ryd kemudian.

“Tadi sih mandi katanya, tapi tauk tuh, dari tadi nggak keluar-keluar.”

“Nggak keluar-keluar, apa nggak kelar-kelar, nih?”

Jimi meringis, seolah paham arah konotasinya.

“Diseeeeneee… tempat cari senang!” teriak Tomi yang udah ganti [I]set list [I]jadi lagunya Slank.

“Yak! Sekarang duet Kaka dan Bom Bom!” sorak Jimi bertepuk tangan dengan noraknya.

Ryd ngakak lagi, teman-temannya memang lagi pada kumat sintingnya. Maklum, dari Senin sampai Sabtu siang tadi mereka habis babak belur dihajar badai ulangan semester. Jadinya gitu deh, otaknya masih pada porak poranda.

Di langit barat, mentari mulai tenggelam, sinarnya semakin meredup seakan-akan hampir sekarat dilindas malam minggu yang akan tiba sebentar lagi. Tapi anak-anak itu kali ini tidak peduli, mereka memang tidak ada rencana mau pergi ke suatu gigs, soalnya sama-sama sedang bokek. Namun meskipun begitu, yang namanya kumpul-kumpul, acara makan-makan harus tetap dilaksanakan. Untuk itulah saat ini mereka kumpulnya di rumah Teby. Satu tempat dimana kalau mau bakar jagung tinggal petik, mau bakar singkong tinggal cabut, mau bakar ayam tinggal potong, lalapan juga sangat berlimpah dan tinggal petik aja. Asiknya lagi, lingkungan di situ rumahnya masih jarang-jarang, jadi kalau mau berisik sekalipun, tidak akan ada tetangga yang merasa terganggu.

“Hmm, bau apa nih?” tiba -tiba Tomi seperti mengendus-endus sesuatu. “Wangi banget!”

“Iya.” Yoris menghentikan permainan gitarnya.

Semua langsung terdiam dan mempertajam penciuman masing-masing.

“Kayak bau kembang.” pelan Jimi berkata.

Suasana mendadak hening, anak-anak itu saling berpandangan. Rasa takut yang bercampur penasaran mulai hadir menyelimuti. Hari yang mulai gelap semakin menambah perasaan was-was, apalagi di daerah tersebut memang banyak terdapat pohon-pohon besar dan tidak jauh dari kuburan.

“Bakpau sih tadi pipis sembarangan!” gerutu Tomi sambil melotot.

Yoris langsung pucat. “Ampun mbah, jangan ambil titit saya, mbah.” ucapnya seakan-akan ada mahluk lain di sekitar mereka.

Teman-temannya malah menahan cekikikan geli.

Dan aroma wangi pun semakin kuat.

Kembali mereka semua terdiam.

“Wanginya sih wangi kembang, tapi kayaknya bukan melati, nih.” setengah berbisik Jimi berujar.

“Lavender nih kayaknya.” Ryd ikutan mengendus.” Tapi masak demit pake aroma lavender?”

“Ini kan malem Minggu, Ryd.” balas Tomi polos.

Mereka malah cekikikan sendiri.

Kreeeeeek… ada suara kursi yang bergeser.

Spontan anak-anak itu langsung menoleh karena kaget, spontan pula dari mulut mereka keluar umpatan-umpatan kasar yang khas. Rupanya aroma wangi tadi berasal dari Teby yang terlihat sudah berpakaian rapi, dan sepertinya bersiap untuk pergi.

“Kirain setan, eh nggak taunya iblis yang nongol!” Yoris langsung bersuara.”Mau kabur ke mana kamu?” Ia mendelik sewot.

Teby cuma cengengesan aja. “Jadi, motornya siapa nih yang malam ini bisa dipake?” tanyanya santai sembari memakai sepatu sandalnya.

Teman-temannya langsung berlagak tidak mendengar.

Ada CBR-nya Ryd, Byson punya Yoris, dan KLX-nya Tomi yang parkir di halaman. Hanya itu pilihan Teby, kalau Defender-nya Jimi jelas bukan pilihannya, karena Teby memang belum bisa nyetir Jip Inggris itu. Sementara Vespa tua yang teronggok di samping rumah, sama sekali tidak bisa diandalkan, rawan mogok masalahnya.

“Tom…” Panggil Teby penuh harap.

“Apa?!”Tomi langsung melotot.”Emangnya cuma kamu yang mau ngapel, heh?”

“Halah! Sari palingan juga lagi sama yang satunya.” Teby menyeringai usil.

“Matamu! ” maki Tomi sewot.

Teby dan tiga lainnya langsung ngakak. Sesaat kemudian ia menoleh ke Yoris.

Si Bakpau itu menggeleng.” Saya ada kencan juga, hehe! Sori, bos!”

Jimi mengernyit,” Sama siapa, Pau? Heh?” tanyanya heran.

“Sama Irene, dong.” ucap Yoris bangga menyebut nama primadonanya cowok-cowok IPS.

“Kok bisa?” Jimi masih heran.

“Ya bisa, lha wong seminggu ini dia minta contekan ke aku terus.” Yoris tersenyum jumawa.” Kamu mau titip apa Jim? Pipi apa bibir, heh?”

“Jiah! Gayamu, Pau, Bakapau!” sergah Jimi jadi rada sirik juga.

Yoris langsung terbahak.”Kegantengan itu bukan segalanya, bos! Otak saya memang lebih keren dari tampang anda! Setuju?”

Jimi cuma meringis garing. “Eat my ass!”

Mereka berdua pun masih terus berbincang sambil sesekali saling meledek.

Teby menghela napas berat, harapan terakhirnya untuk pinjam motor tinggal ke Ryd.

“Sori bro, abis ini aku mau jemput Dinda dulu di Samantha Krida.” tanggap Ryd kalem.

“Aku sih nggak pengen ke mana-mana, Teb.” sahut Jimi santai. “Kalo mau pake Landy, pake aja dulu deh sana.” Ia menawarkan mobilnya sambil cengengesan.

Teby cuma meringis masam.

“Salah sendiri! Dari jaman dulu disuruh belajar nyetir nggak mau sih!”

Teby coba tersenyum, tapi hambar, lalu dengan pasrah melangkah lesu menghampiri Vespa butut di samping rumah. Ekspresi wajahnya tak seceria tadi, terlihat tidak bergairah. Namun ia tetap harus pergi ke rumah Intan, walaupun dengan resiko Vespa tua itu bakal mogok di jalan.

Seorang Teby, juga mempunyai impian yang sama seperti kebanyakan remaja laki-laki lainnya. Ingin memiliki motor sport keluaran terbaru. Tapi apa daya, ayahnya cuma seorang pegawai swasta biasa yang gajinya pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja, dan ia sangat mengerti akan hal itu, sehingga mau tidak mau harus menerima keadaan. Tidak lantas merengek-rengek atau mengancam bunuh diri segala hanya karena tidak dibelikan motor.

Teby masih berusaha menyetater Vespa tua itu, tapi dari tadi mesinnya tidak mau hidup. Keningnya sudah mulai berkeringat, bagian belakang kemejanya pun sudah mulai basah. Ia masih berusaha tetap tenang, walau perasaan mulai jengkel tidak karuan. Itu terbaca dari gerak rahangnya yang terkatup.

“Udah, nggak usah pake perasaan.” celetuk Jimi enteng lalu terkekeh.”Cewek gitu aja dibela-belain segala!” Ia bangkit dari duduknya dan meraih gitar. Sebentar kemudian mulai terdengar suara anak itu memainkan Beautiful Day-nya U2.

Sambil berkacak pinggang, Teby menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskanya perlahan. Ia tampak mulai putus asa dan gelisah karena mesin Vespa tua tadi tidak mau hidup juga, sementara waktu terus bergerak tanpa henti.

Ryd menatap sobatnya itu penuh rasa empati yang begitu dalam. Ya, Teby yang hidupnya tidak sebahagia anak-anak lain, tapi hari-hari selalu dilewatinya dengan penuh keceriaan. Dengan Intan, itu pertama kalinya dalam sejarah Teby bisa merasakan nge-date bareng cewek. Dan yang membuat Ryd senang, setiap kali Teby habis nge-date, sobatnya itu tampak lebih bersemangat, dan keceriaannya pun jadi bertambah lagi, seperti ada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Jimi masih terus bernyanyi riang, ngebagus-bagusin suaranya.

Teby makin tampak gelisah, seakan-akan kalau ia tidak datang malam ini, besok bakalan mati.

Tidak tega melihat sobatnya itu murung, Ryd merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kunci motornya.”Teb…” panggilnya datar.

Teby menoleh, lalu dengan sigap menangkap kunci motor yang dilempar ke arahnya. Seketika itu pula raut wajahnya langsung sumringah, memancarkan gairah yang tadi sempat meredup.

“Bawa aja sana, entar aku jemput Dinda bisa pake mobilnya Jimi.” Ryd berkata kalem

“Thank you my man!” pekik Teby girang seraya meraih STNK yang disodorkan. “Sampe ketemu tengah malam nanti!”

Ryd mengangguk saja.

Dan Jimi masih terus bernyayi. “It’s a beautiful day…!”

Jreng…jreng…jreng…jreng…jreng…jreng…

Sori

Februari 29th, 2012, posted in Uncategorized

Maaf masih berantakan….dan belum ada apa-apa :D Kapan-kapan aja ya kemari lagi…

Mereka bilang…

Februari 26th, 2012, posted in Uncategorized

Cek aja di sini :
 http://jesicastephanie.wordpress.com/201…
 http://sunshinesharelove.blogspot.com/20…

Awalnya RELOAD,akhirnya JATUH CINTA

Januari 15th, 2012, posted in Tentang-Tentang

Dalam balutan dingin malam, ditemani lirih alunan gitar Joe Satriani, kopi, dan beberapa batang rokok, dua tahun yang lalu mulai kutulis naskah itu, yang awalnya berjudul RELOAD. Berproses kemudian melewati Kompetisi 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan oleh GagasMedia. Walaupun tidak menang, tapi sempat masuk 20 besar dari sekitar 340 naskah yang berpartisipasi.
Akhirnya, setelah lama menunggu kabar, naskah itupun diterbitkan jadi buku, yang kemudian oleh redaksi diberi judul “Jatuh Cinta”.
Terus terang itu roman gampangan, namun mulai memacu saya untuk bisa bikin karya yang lebih berbobot lagi . Selamat menikmati karya pertama ini, beredar mulai Februari 2012.

Jatuh Cinta